Seorang
gadis yang terlahir dari keluarga sederhana bernama Yatinah, ia lahir pada
tanggal 1 Oktober 1995 di Meulaboh sebagai anak ke 3 dari 5 saudara. Karena
sesuatu hal yang terjadi kedua orangtuanya meninggal semasa ia masih kecil.
Ia harus menghadapi musibah pahit yang harus ia jalani dari kecil tanpa bimbingan serta belaian kasih sayang dari kedua orangtuanya. Hingga kini ia dirawat oleh kakak kandungnya sendiri yang telah menikah dan memiliki lima orang anak. Namun ia harus ikut membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari, karena keluarga yang ia hinggapi hanyalah keluarga sederhana.
Ia harus menghadapi musibah pahit yang harus ia jalani dari kecil tanpa bimbingan serta belaian kasih sayang dari kedua orangtuanya. Hingga kini ia dirawat oleh kakak kandungnya sendiri yang telah menikah dan memiliki lima orang anak. Namun ia harus ikut membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari, karena keluarga yang ia hinggapi hanyalah keluarga sederhana.
Ia
memiliki cita-cita ingin menjadi seorang guru yang sukses, walaupun ia sadar
bahwasanya itu hanya lambaian tangan semata. Namun ia tidak menyerah, ia tetap
berusaha meraih cita-cita dengan doa serta usaha yang telah ia lakukan sedari
dulu. Cita-citanya terhalang oleh kesulitan ekonomi yang ia alami. Sehingga
memaksanya untuk bekerja membantu keluarga kakaknya mencari serpihan rupiah. Ia
harus membagi waktu antara pekerjaan dengan sekolahnya.
Selepas
adzan berkumandang di pagi hari, ia terbangun untuk melaksanakan ibadah
agamanya yakni shalat subuh. Setelah shalat subuh ia langsung membereskan
rumahnya, dan tidak mempersiapkan diri untuk bersekolah. Karena jalan
satu-satunya meraih cita-cita adalah belajar dengan sungguh-sungguh. Ia
bersekolah si SMA KARTIKA XIV-1 yang jaraknya tidak jauh dari keberadaan
rumahnya. Ia berangkat dengan berjalan kaki setiap paginya agar bisa menghemat
biaya. Kini ia tengah duduk di kelas sebelas SMA.
Di
sekolah ia termasuk murid yang rajin. Karena dengan kecerdasan yang ia miliki,
ia mampu menjadi yang terbaik dikelasnya. Ia juga mampu menelaah dengan cepat
setiap pelajaran yang dijelaskan oleh gurunya di sekolah. Ia juga memiliki
banyak teman yang baik yang mampu menerimanya, walaupun ia hanyalah seorang
gadis dengan kesederhanaan yang ia miliki.
Sepulang
sekolah, ia langsung menuju rumahnya. Karena ia sangat memanfaatkan waktu yang
ia miliki. Sesampainya ia berganti pakaian dengan pakaian rumah. Dan ia juga
tidak lupa untuk beribadah sesuai ajaran agamanya yakni shalat dzuhur. Disetiap
ibadah yang ia jalani, ia juga tidak lupa memanjatkan untaian-untaian doa agar
diberikan petunjuk yang benar untuk meraih cita-citanya.
Ia
juga tidak lupa mengisi energi agar tidak cepat kelelahan untuk melakukan tugas
berikutnya. Ia makan siang bersama keluarganya bersama-bersama. Sifat
kekeluargaan sangat erat di keluarga ini, walaupun keterbatasan banyak melanda
di gubuk sederhana ini. Makan siang selesai, ia harus membersihkan
peralatan-peralatan makan yang dipakai tadi.
Selesai
membereskan meja makan, ia harus melanjutkan tugasnya yang lain, yakni mencari
seupah uang untuk kelanjutan pendidikannya. Ia harus bekerja sebagai penggosok
baju rumah tangga di beberapa rumah disekitar tempat ia tinggal. Tidak jarang
baju-baju yang ia gosok sangat banyak, namun ia menjalaninya dengan ikhlas demi
rupiah-rupiah yang akan ia dapatkan.
Keringatnya
dihargai lima puluh ribu per bulan, namun itu hanya untuk satu orang saja. Dan
jika ada rumah yang memiliki tiga orang penghuni, ia dihargai dengan seratus
lima puluh ribu perbulannya. Gaji-gaji yang ia peroleh ia gunakan untuk
membiayai sekolahnya dan selebihnya ditabung untuk keperluan di masa depan.
sedeeepppp..
BalasHapusudh mulai nulis fiksi juga ni?? :D
ad smbungan a nggk tu??
wkwkw datanya masih ada
BalasHapustapi lagi malas sambungin :D
nyata looh yg ini n:D