Kamis, 30 Mei 2013

Secercak Harapan yang Masih Ada



Seorang gadis yang terlahir dari keluarga sederhana bernama Yatinah, ia lahir pada tanggal 1 Oktober 1995 di Meulaboh sebagai anak ke 3 dari 5 saudara. Karena sesuatu hal yang terjadi kedua orangtuanya meninggal semasa ia masih kecil.
Ia harus menghadapi musibah pahit yang harus ia jalani dari kecil tanpa bimbingan serta belaian kasih sayang dari kedua orangtuanya. Hingga kini ia dirawat oleh kakak kandungnya sendiri yang telah menikah dan memiliki lima orang anak. Namun ia harus ikut membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari, karena keluarga yang ia hinggapi hanyalah keluarga sederhana.
Ia memiliki cita-cita ingin menjadi seorang guru yang sukses, walaupun ia sadar bahwasanya itu hanya lambaian tangan semata. Namun ia tidak menyerah, ia tetap berusaha meraih cita-cita dengan doa serta usaha yang telah ia lakukan sedari dulu. Cita-citanya terhalang oleh kesulitan ekonomi yang ia alami. Sehingga memaksanya untuk bekerja membantu keluarga kakaknya mencari serpihan rupiah. Ia harus membagi waktu antara pekerjaan dengan sekolahnya.
Selepas adzan berkumandang di pagi hari, ia terbangun untuk melaksanakan ibadah agamanya yakni shalat subuh. Setelah shalat subuh ia langsung membereskan rumahnya, dan tidak mempersiapkan diri untuk bersekolah. Karena jalan satu-satunya meraih cita-cita adalah belajar dengan sungguh-sungguh. Ia bersekolah si SMA KARTIKA XIV-1 yang jaraknya tidak jauh dari keberadaan rumahnya. Ia berangkat dengan berjalan kaki setiap paginya agar bisa menghemat biaya. Kini ia tengah duduk di kelas sebelas SMA.
Di sekolah ia termasuk murid yang rajin. Karena dengan kecerdasan yang ia miliki, ia mampu menjadi yang terbaik dikelasnya. Ia juga mampu menelaah dengan cepat setiap pelajaran yang dijelaskan oleh gurunya di sekolah. Ia juga memiliki banyak teman yang baik yang mampu menerimanya, walaupun ia hanyalah seorang gadis dengan kesederhanaan yang ia miliki.
Sepulang sekolah, ia langsung menuju rumahnya. Karena ia sangat memanfaatkan waktu yang ia miliki. Sesampainya ia berganti pakaian dengan pakaian rumah. Dan ia juga tidak lupa untuk beribadah sesuai ajaran agamanya yakni shalat dzuhur. Disetiap ibadah yang ia jalani, ia juga tidak lupa memanjatkan untaian-untaian doa agar diberikan petunjuk yang benar untuk meraih cita-citanya.
Ia juga tidak lupa mengisi energi agar tidak cepat kelelahan untuk melakukan tugas berikutnya. Ia makan siang bersama keluarganya bersama-bersama. Sifat kekeluargaan sangat erat di keluarga ini, walaupun keterbatasan banyak melanda di gubuk sederhana ini. Makan siang selesai, ia harus membersihkan peralatan-peralatan makan yang dipakai tadi.
Selesai membereskan meja makan, ia harus melanjutkan tugasnya yang lain, yakni mencari seupah uang untuk kelanjutan pendidikannya. Ia harus bekerja sebagai penggosok baju rumah tangga di beberapa rumah disekitar tempat ia tinggal. Tidak jarang baju-baju yang ia gosok sangat banyak, namun ia menjalaninya dengan ikhlas demi rupiah-rupiah yang akan ia dapatkan.
Keringatnya dihargai lima puluh ribu per bulan, namun itu hanya untuk satu orang saja. Dan jika ada rumah yang memiliki tiga orang penghuni, ia dihargai dengan seratus lima puluh ribu perbulannya. Gaji-gaji yang ia peroleh ia gunakan untuk membiayai sekolahnya dan selebihnya ditabung untuk keperluan di masa depan.

2 komentar:

  1. sedeeepppp..
    udh mulai nulis fiksi juga ni?? :D

    ad smbungan a nggk tu??

    BalasHapus
  2. wkwkw datanya masih ada
    tapi lagi malas sambungin :D

    nyata looh yg ini n:D

    BalasHapus