Kamis, 11 April 2013

Hilang


Pagi itu, seperti biasa masih terlihat keakraban antara aku dan dia. Reno dan aku biasanya sama-sama menanti bunyi bel masuk di kantin sembari mencicipi sedikit makanan yang dijajakan di meja-meja yang terbuat dari kayu.
Hampir tidak ada kata diam jika kami sedang bersama. Banyak yang mengira bahwa kami ini adalah pasangan, padahal kami hanya teman yang yang berjanji tidak akan terikat dalam kata cinta.
“bo, hari ini gue punya cerita yang banyak ni untuk gue ceritain ke elo” (pagi ini Reno memulai pembicaraan, ia memanggilku dengan sapaan akrabnya yakni Kibo)
“idiih, elo mah emang kagak pernah habis cerita”
“kalo ini beda bo, cerita yang ini beda banget dengan cerita-cerita biasanya. Mau dengerin kagak?” (ia memasang wajah sangat menharapkan aku mendengarkan ceritanya).
“iya deh, gue dengerin. Kapan sih gue kagak dengerin cerita dari sahabat gue sendiri”
“jadi gini bo, selama ini gue sebenarnya menyimpan sesuatu rahasia dari elo”
Mendengar kata rahasia yang ia ucapkan mimik wajahku berubah menjadi terkejut penasaran atas apa yang aku dengar dari Reno.
“rahasia apaan emang yang elo sembunyiin?” tanyaku dengan wajah terkejut namun tersimpan.
“sebenarnya..... gue naksir...”
“siapa Ren?” Aku langsung memotong pembicaraan yang baru saja memasuki intinya.
“dengerin dulu, jangan banyak tanya”
“iya dah”
“aku naksir sama cewek yang ada dikelas elo bo”
“haa kelas gue? Siapa Ren kok gue kagak tau?”
“sama si Una yang sering pake pita rambut warna merah itu, sebenarnya udah lama gue naksir dia. Tapi gue gak berani bilang ke elo, apalagi gue ngungkapin langsung ke Una”.
“yaeelah, santai aja kali Ren. Kenapa elo baru bilang sekarang? Gue kan bisa ngebantu elo sama dia”.
“beneran elo bisa bantuin gue PDKT sama dia? Serius lo?” iya bertanya seakan memaksaku untuk mengatakan bisa membantunya.
“bener, gue bisa bantu elo PDKT sama Una. Dan kebetulan rumahnya dia juga deket dengan rumahnya dia. Jadi gampang dah buat gue ngedeketin elo sama dia”
“haaa elo emang pengertian baget dah sama gue, elo temen gue yang paling top dah” ia berkata dengan semangat yang terlihat membara diwajahnya.
“kalo bisa secepatnya elo urus gue sama Una ya”
“iya iya, gue usaha in dah buat elo”
Bel pun berbunyi, Reno dan aku beranjak dari kantin. Kami segera memasuki kelas masing-masing guna mengikuti pelajaran.
Sepanjang koridor yang aku lewati, aku terus memikirkan cerita Reno yang dikantin tadi. Semenjak ia mengatakan bahwa ia naksir dengan teman sekelasku, perasaanku tiba-tiba berubah. Pikiranku seakan buyar ridak menentu, aku tidak mengerti dengan keadaanku yang sekarang ini. Mengapa aku terus memikirkan Reno, apa yang terjadi padaku? Sudah lah aku tidak terlalu mengindahkan apa yang terjadi dipikiranku ini.
Aku memasuki kelas, dan langsung mengambil posisi tempat duduk yang berada tepat disamping Una. Aku duduk disampingnya bertujuan agar bisa mengolah perasaan Reno terhadapnya. Sepanjang pelajaran Una dan aku tidak memperhatikan guru yang berada didepan kelas. Aku terus menceritakan tentang Reno kepada Una. Hingga akhirnya Una pun juga setuju untuk memberikan nomor HP-nya kepada Reno.
Sewaktu jam istirahat tiba, aku langsung mengabari Reno dan memberinya seutas kertas yang berisikan nomor HP Una. Reno sangat senang, akupun juga ikut senang melihat temanku senang.
Reno mulai mendekati Una, itu terlihat dari cerita yang Una ceritakan padaku tiap paginya. Entah mengapa setiap aku mendengarkan Una bercerita tentang Reno, hatiku menjadi ngilu getar tidak bearah. Apakah aku cemburu melihat mereka dekat seperti ini? Tidak mungkin pikirku. Karena aku sendiri yang mendekatkan mereka seperti ini. Aku semakin tidak mengerti atas apa yang aku rasakan saat ini. Namun aku sangat merasa, sepertinya Reno sekarang semakin tidak seperti dulu. Biasanya pagi-pagi kami selalu duduk bersama dikantin dan mendengarkan cerita satu sama lain.
Kali ini benar-benar berbeda, aku terus merasakan kehilangan semenjak Reno dekat dengan Una. Reno tidak seperti biasa denganku, ia seperti orang yang bukan aku kenal lagi.
Di jam istirahat aku berjalan di koridor sekolah bertujuan untuk menyapa Reno dikelasnya. Mungkin aku yang sombong tidak pernah menyapanya. Setiba didepan kelas Reno, aku langsung menerobos pintu yang telah terbuka. Aku langsung menuju tempat dimana Reno berada.
“hai Ren” aku mengejutkan Reno yang tengah asyik dengan HP-nya.
“eh hai bo” jawab Reno singkat lalu melanjutkan kembali mengutak-atikan HP yang ada ditangannya.
“ke kantin yuk, gue laper ni”
“duh, gue lagi gak laper ni. Elo aja yang ke kentin”
“idih ayo dong Ren, temenin gue yaa. Gue traktir deh” aku mulai terlihat memaksa.
“kagak bo, gue gak laper” ia menolak permintaanku, ia lebih memilih berada dikelas dengan HP-nya.
“ ahh elo, sibuk dengan HP. Lagi ngapain sih” aku merebut HP Reno dengan paksa.
Aku melihat HP Reno, ternyata sedang asyik SMS-an dengan Una. Aku tidak bisa membaca banyak HP Reno.
“apaan sih lo bo, kalo elo mau ke kantin pergi terus. Jangan kayak anak-anak gini deh, maksa banget. Sini HP gue” ia merebut HP-nya dari tanganku. Sebelumnya Reno tidak pernah berkelakuan seperti ini kepadaku. Ada apa dengan Reno? Mengapa ia menjadi sepert ini pikirku.
“yaudah kalo elo gak mau” aku langsung beranjak pergi dari kelas Reno. Benar-benar aku tidak pernah melihat Reno seperti ini. Ia telah berbeda.
Beberapa hari kemudian, aku mendengar bahwa Reno telah jadian dengan cewek yang ia taksir, yakni Una. Awalnya aku senang mendengar kabar itu. Namun aku tidak habis pikir, mengapa Una dan Reno tidak mengatakannya langsung kabar gembira itu kepadaku. Dan merekapun seakan menjauhiku, padahal aku yang telah menyatukan mereka.
Sekarang aku benar tidak mengenal Reno lagi. Semenjak ia jadian dengan Una, ia tidak pernah lagi menyapaku. Bahkan aku sering menunggunya disetiap pagi dikantin sekolah, namun Reno tidak pernah lagi berada di kantin seperti biasa yang ia lakukan dulu. Kini dia telah bersama Una, ia telah melupakan aku. ia tidak mengingat lagi bahwa aku temannya yang selalu mendengarkan ceritanya setiap pagi. Sekarang aku kehilangan Reno yang pernah aku kenal. Begitupun Una, seakan sengaja menjauh dariku dikelas.
Andai aku tidak menyatukan mereka, aku tidak akan kehilang Reno. Aku tidak akan kehilangan sahabatku yang telah aku anggap sebagai saudara sendiri. Namun semua telah terjadi. Aku sendiri yang menyatukan mereka, seharusnya aku senang melihat Reno bahagia dengan pilihannya sendiri. Andai Reno tahu, aku rindu dengannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar