Kriik krik krik, saat Kiren dan
Selna yang mencoba menghibur dua orang temannya yang lain yakni Mira dan Kelmi.
Memang Kiran dan Selna adalah dua orang yang biasanya membuat cerita yang
sedikit canggung, namun biasanya Mira dan Kelmi mencoba menambah agar bisa
menjadi benar-benar lucu.
Kiren, Selna, Mira, dan Kelmi adalah empat sahabat
yang sudah sangat akrab, itu terlihat dari omongan anak sekolah mereka yang
menyadari keakraban mereka. Terlebih mereka sering berjalan bersama jika jam
istirahat tiba. Sehingga sering membuat iri beberapa atau segelintir orang yang
menjadi penghuni sekolah empat sahabat ini. Namun Kiren, Selna, Mira, dan Kelmi
tidak memperdulikan orang-orang yang memandang mereka dengan syirik.
Suatu waktu ketika jam istirahat
disekolah, seperti biasa mereka beranjak dari kelas, menlusuri koridor sekolah
menuju kantin. Mereka memilih tempat yang memang sudah menjadi tempat mangkal sehari-hari, yakni sedikit sudut
dari pandang depan kantin. Di tempat itulah mereka sering sharing cerita
masing-masing.
“Sel, Mir, Ren, tau gak cowok yang
biasa ada di perpus itu?”
tanya Kelmi bermaksud ingin membuka pembicaraan.
“yang mana?”
Mira bertanya penasaran.
“itu tuh yang biasanya mangkal di
perpus dengan bahan bacaan ditangannya, noh orangnya sekarang duduk disitu”
Kelmi menunjuk ke arah bangku depan yang sedikit jauh dari
mereka.
“ohh yang itu, gue kenal banget
tuh orang, namanya Zafa kebetulan dia seperguruan Silat sama gue. Tapi dia
anaknya agak ketutup dan selalu sendiri.”
Jawab Kiren spontan setelah melihat sosok yang ada
didepannya. Kiren adalah seseorang yang toboy diantara teman-temannya yang
lain, ia juga seorang pesilat sejak ia kecil. Sehingga membuat ketomboyannya
lebih terlihat.
“idiih, dia? Kenapa lo
tanyak-tanyak dia? Nah pasti ada apa-apa kan? Ayo ngaku”
Selna memojokan Kelmi dengan pertanyaanya.
“haha tau aja lo, gue lagi naksir
berat ni sama dia. Kira-kira mau gak yang gue deketin?”
Kelmi menerangkan sembari tersenyum dengan licik.
“haha ya pasti maulah, cowok mana
yang kagak mau didektin dengan ama elo. Secara elo kan yang paling banyak
ditaksir sama cowok sekolahan ini”
Mira mengolokan Kelmi, yang terlihat tengah tersipu malu.
Jam istirahatpun selesai, mereka berempat memasuki ruang
kelas yang menurut mereka adalah neraka ini.
Sepulang sekolah, mereka
melanjutkan perbincangan tentang Zafa, yang kebtulan Kelmi sedang kesemsem saat
Zafa melewati mereka. Sebenarnya ada sedikit yang terhambat dihati Kiren
tentang Zafa. Sebenarnya Kiren telah menyukai Zafa lebih dulu, sejak Zafa
memenangkan beberapa prestasi di silat. Namun Kiren memilih menutupinya dari
teman-temannya, karena ia dikenal sebagai cewek tombay yang anti suka sama
cowok. Maka dari itu ia berbeda dengan temannya yang lain yang telah pernah
berpacaran semua.
Mira memiliki seorang pacar dari
salah satu pemain basket disekolahnya. Selna memiliki pacar anak kuliahan yang
sebenarnya adalah tentor belajarnya sendiri. Kelmi sendiri baru putus dari
pacarnya yang lama, dan sekarang ia ingin mendekati Zafa. Dan Kiren adalah
satu-satunya cewek yang tidak pernah pacaran diantara mereka. Namun itu
bukanlah hal yang bermasalah bagi Kiren.
Mengetahui Kelmi menyukai Zafa,
ia lebih memilih mengurungkan perasaan kagumnya kepada Zafa. Dan berniat untuk
memperdekatkan Zafa dan Kelmi. Walau terkadang ia sedikit cemburu, namun
kecemburuan itu tidak diperlihatkan oleh Kiren. Akhirnya Zafa berhasil didekati
oleh Kelmi, namun Zafa beranggapan biasa saja, tidak terlihat dari wajah Zafa
kalau ia juga menyukai Kelmi.
Hari terus berlalu, namun Kelmi
tidak kunjung mendapatkan Zafa karena sikap Zafa yang selalu dingin terhadap
Kelmi. Sikap Zafa tersebut tidak terlalu bermasalah bagi Kelmi, karena ia
sedikit sabar menghadapi sosok laki-laki yang seperti ini.
“kenapa ya si Zafa tu sulit
banget diluluhin, asal gue ngomong selalu jawaban dari dia tu dingin banget”
Cerita Kelmi kesal kepada temannya.
“mungkin menurut dia, elo harus
berusaha kalik”
Selna memberi sedikit arahan kepada Kelmi yang masih
terlihat kesal.
“iya, elo butuh sedikit kesabaran
menghadapi dia”
Mira menambahkan.
“iya kalik ya, berarti gue harus
lebih semangat mendekati Zafa”
Kelmi memnyemangati dirinya.
“oh iya ren, gimana Zafa
diperguruan? Pastinya di pinter dong hiaatt hiat”
Kelmi mempraktekan sedikit gerakan dari silat. Namu Kiren
terlihat melamun. Ia memikirkan Zafa yang segera akan menjadi milik temannya
sendiri.
“ren, kenapa sih lo?”
Kelmi mengejutkan Kiren.
“eh iya, kenapa tadi?
kiren tersadar dari lamunannya.
kiren tersadar dari lamunannya.
“idiih ni anak, giman Zafa
diperguruan?”
Kelmi melanjutkan pertanyaanya.
“ oh, lancar kok. Kemarin dia
latihan seperti biasa”
Jawab Kiren sedikit terbata-bata.
“pasti
dia keren baget yaa”
Kelmi mengatkannya dengan wajah yang sedikit kashmaran.
“sebenar Zafa adalah sosok yang
memang sulit ditaklukan. Ia tidak suka terhadap cewek yang terlihat -----
(sensor). Ia memang sosok laki-laki yang berbeda, maka dari itu sangat susah
untuk cewek seperti Kelmi mendapatkan hati Zafa”
bisik Kiren dalam
hati sebenarnya ia tidak mau mendekatkan Kelmi kepada Zafa, mengingat Kelmi
adalah temannya ia bersedia berbuat apapun asalkan teman-temannya senang
bersamanya. Itulah yang menjadi alasan mengapa Kiren lebih membiarkan Kelmi
mendekati Zafa.
Hari ini Kiren ada jadwal latihan silat, hari ini datang
sedikit telat karena dirumah ia harus membereskan rumahnya terlebih dahulu
sebab orang tua Kiren sedang berada diluar kota. Ia mendapatkan hukuman
membersihkan tempat latihan, yang kebetulan Zafa juga datang terlambat.
Sehingga mereka ditugas membersihkan seluruh tempat latihan. Ditengah
membersihkan, tiba-tiba Zafa menyapa
Kiren yang terlihat membersihkan lantai.
“hai”
Zafa menyapa.
“eh
hai”
Kiren menjawab.
“kita
satu sekolah kan?”
Tanya Zafa kepada Kiren.
“eh
iya”
Kiren menjawab, sebenarnya saat itu Kiren sangat senang
dengan sapaan Zafa.
“kamu
Kiren kan? Temannya Kelmi”
“iya
benar, kok kamu tau?
“iya,
soalnya aku sering melihat kamu kalu sedang berjalan dengan Kelmi”
“ooh.
Maafin sikap Kelmi yang cerocosan seperti itu”
Tiba-tiba Kiren membahas Kelmi, padahal Zafa tidak
membukanya lebih awal.
***to be continued***
***to be continued***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar